1. Latar Belakang
AKI menurun sangat lambat dekade
terakhir, sedangkan target MDG’s yang ditegaskan dalam Keppres No. 5 tahun 2010
adalah 102/100.000 kelahiran hidup. Dibandingkan dengan negara – negara ASEAN
AKI di Indonesia menempati peringkat teratas. (Depkes RI, 1999 ).
Angka Kematian Ibu (AKI) dinegara berkembang karena
kehamilan, persalinan dan nifas merupakan masalah yang komplek dan
berkepanjangan. Bahkan sampai saat ini masalah tersebut belum teratasi.
Dinegara miskin, sekitar 25-50 % kematian wanita subur disebabkan oleh hal yang
berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor
utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitas (Saefudin: 2006:3).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Healht Organization
(WHO) menjelaskan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menduduki pringkat ke-6
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.
AKI di Indonesia pada tahun 2007 AKI adalah 248/100.000
kelahiran hidup.
Sedangkan pada
tahun 2011 AKI adalah 228 /100.000AKI mengalami
penurunan dari tahun 2007 sampai 20011 (Depkes RI,
2008).
AKI di Jawa Barat mengalami penurunan dari tahun 2003
sampai tahun 2007,
yaitu pada tahun 2003 sebesar 321.15/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada
tahun 2007 AKI sebesar 81/100.000 kelahiran hidup (Dinkes Jabar, 2007)
AKI di kabupaten Cirebon pada tahun 2011 berjumlah 49 orang (Laporan
Tahunan Dinkes Kabupaten
Cirebon. 20011).
Penyebab kematian ibu di kabupaten Cirebon tahun
2011 adalah pre-eklampsia dan eklampsia (28 %), perdarahan (24%), dan infeksi
(11%). Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu tertinggi
pertama di Cirebon.
Laporan
bulanan KIA puskesmas Sendang 2011 dari tahun 2007-2011 tidak ada AKI
tetapi angka komplikasi masih tinggi cakupan kumulatif K1 pada tahun 2012
dengan rentang waktu dari Januai-Mei komplikasi kebidanan 40,15 %
dan cakupan k4 yaitu 33%.
Mengingat
semakin meningkatnya kasus Eklampsia terutama di Negara-negara berkembang, maka
penulis mengangkat tema Pre-Eklampsia berat dari hasil temuan saat
melakukan Praktek Klinik Kebidanan I di PKM Sendang kabupaten Sumber dari 18
keseluruhan di temukan 1 kasus PEB dalam waktu 1 minggu dari tanggal 18-24,
maka penulis tertarik mengangkat tema Pre-Eklampsia berat sebagai
bahan membuat laporan kasus pada Ny. S hamil trimester II ini, guna menegakkan
diagnosis dini pre-eklampsia dan mencegah agar jangan berlanjut menjadi
Eklampsia sehingga kematian ibu dan perinatalnya dapat dicegah.
A. Pengertian preeklamsia berat
Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai
proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan. Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang
dan atau koma yang timbul akibat kelainan neurologi (Kapita Selekta Kedokteran
edisi ke-3).
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada
wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan
proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau
hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan
berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar, 1998 ).
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,
edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan (Ilmu Kebidanan : 2005).
Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang
ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai
proteinuria dan atau disertai udema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Asuhan
Patologi Kebidanan : 2009).
Preeklamsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang di
tandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih di sertai proteiuria
dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih.(Asuhan Kebidanan IV:2010).
Preeklampsia dibagi dalam 2 golongan ringan dan berat.
Penyakit digolongkan berat bila satu atau lebih tanda gejala dibawah ini :
1. Tekanan sistolik 160 mmHg atau
lebih, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih.
2. Proteinuria 5 g atau lebih dalam 24
jam; 3 atau 4 + pada pemeriksaan kualitatif.
3. Oliguria, air kencing 400 ml atau
kurang dalam 24 jam.
4. Keluhan serebral, gangguan
penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium.
5. Edema paru dan sianosis.
B. Etiologi preeklamsia berat
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan
pasti. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan
penyebabnya. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada
memberikan jawaban yang memuaskan. Tetapi terdapat suatu kelainan yang
menyertai penyakit ini yaitu :
o
Spasmus
arteriola
o
Retensi
Na dan air
o
Koagulasi
intravaskuler
Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer
penyakit ini, akan tetapi vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang
menyertai eklampsia (Obstetri Patologi : 1984).
Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab
preeklampsia ialah iskemia plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat
diterangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya
satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan
eklampsia. Diantara faktor-faktor yang ditemukan sering kali sukar ditemukan
mana yang sebab mana yang akibat (Ilmu Kebidanan : 2005).
C. Gejala dan tanda preeklamsia berat
Gejala dan tanda preeklamsi berat : tekanan darah
sistolik>160mmHg; peningkatan kadar enzim hati atau /ikterus;
trombosit<100.000mm3; oliguria<400 ml/24jam;proteinuria>3gr/liter;
nyeri epigastrium; skotoma dan gangguan visus lain atau nyeri frontal yang
berat; pendarahan berat; pendarahan retina; odem pulmonum.
Penyulit
lain juga bias terjadi,yaitu kerusakan organ-organ tubuh seperti gagal jantung,
gagal ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan pembekuan darah,sindroma
HELLP, bahkan dapat terjadi kematian janin,ibu, atau preeklamsi tak
segera diatasi dengan segera diatasi.
Di
tinjau dari umur selama kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklamsia
berat selama perawatan di bagi menjadi : (1)perawatan aktif yaitu kehamilan
segera di akhiri atau di terminasi ditambah pengobatan medicinal; (2)perawatan
konservatif yaitu kehamilan tetap di pertahankan di tambah pengobatan
medicinal.
D. Patofisiologis Preeklamsia Berat
Pada
pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan
air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada
beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat
dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh
mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi
tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan
berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam
ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan
garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi
perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).
Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi
perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan
diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia (Cunniangham,2003).
Wanita
dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap
berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin,tromboxan) yang dapat
menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. Penumpukan trombus dan
perdarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala
dan defisit syaraf lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan
penurunan laju filtrasi glomelurus dan proteinuria. Kerusakan hepar dari
nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi
hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume
intavaskuler, meningkatnya kardiakoutput dan peningkatan tahanan pembuluh
perifer. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan
trobositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan
janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael,2005).
Perubahan
pada organ :
1) Perubahan kardiovaskuler
Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi
pada preeklamsia dan eklampsia. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan
dengan peningkatan afterload jantung akibat hipertensi, preload jantung yang
secara nyata dipengaruhi oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia
kehamilan atau yang secara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik /
kristaloid intravena, dan aktifasi endotel disertai ekstravasasi kedalam
ekstravaskuler terutama paru (Cunningham,2003).
2) Metablisme air dan elektrolit
Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia
tidak diketahui penyebabnya. Jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak
pada penderita preeklamsia dan eklampsia dari pada wanita hamil biasa atau
penderita dengan hipertensi kronik. Penderita preeklamsia tidak dapat
mengeluarkan dengan sempurna air dan garam yang diberikan. Hal ini disebabkan
oleh filtrasi glomerulus menurun, sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak
berubah. Elektrolit, kristaloid, dan protein tidak mununjukkan perubahan yang
nyata pada preeklampsia. Konsentrasi kalium, natrium, dan klorida dalam serum
biasanya dalam batas normal (Trijatmo,2005).
3) Mata
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh
darah. Selain itu dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema
intraokuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi
kehamilan. Gejala lain yang menunjukkan pada preeklampsia berat yang mengarah
pada eklampsia adalah adanya skotoma, diplopia dan ambliopia. Hal ini
disebabkan oleh adaanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan
dikorteks serebri atau didalam retina (Rustam,1998).
4) Otak
Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan
anemia pada korteks serebri, pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan
perdarahan (Trijatmo,2005).
5) Uterus
Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan
pada plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena
kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada preeklampsia dan eklampsia sering
terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan, sehingga
terjad partus prematur.
6) Paru-Paru
Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan
oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa juga karena aspirasi
pnemonia atau abses paru (Rustam, 1998).
2.4
Pencegahan Preeklamsia Berat
Pemeriksaan
antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini
preeklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Kita
perlu lebih waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya faktor-faktor
predisposisi seperti yang telah diuraikan di atas. Walaupun timbulnya
preeklamsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi
dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya yang baik
pada wanita hamil. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam
pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun
pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan
berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan
penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Mengenal secara
dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan
obat antihipertensif, memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan
antenatal yang baik.
E. Penatalaksanaan Preeklamsia Berat
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala
preeklampsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi :
1) Perawatan aktif yaitu kehamilan
segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medisinal.
a. Perawatan aktif
Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap
penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST dan USG). Indikasi :
1. Ibu
·
Usia
kehamilan 37 minggu atau lebih.
·
Adanya
tanda-tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan terapi konservatif yaitu
setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24
jam perawatan medisinal, ada gejala-gejala status quo (tidak ada
perbaikan)
2. Janin
·
Hasil
fetal assesment jelek (NST dan USG).
·
Adanya
tanda IUGR (janin terhambat)
3. Laboratorium
·
Adanya
“HELLP Syndrome” (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar, trombositopenia)
b. Pengobatan mediastinal
Pengobatan mediastinal pasien preeklampsia berat adalah
:
1. Segera masuk rumah sakit.
2. Tirah baring miring ke satu sisi.
Tanda vital perlu diperiksa setiap 30 menit, refleks patella setiap jam.
3. Infus dextrose 5% dimana setiap 1
liter diselingi dengan infus RL (60-125 cc/jam) 500 cc.
4. Diet cukup protein, rendah
karbohidrat, lemak dan garam.
5. Pemberian obat anti kejang magnesium
sulfat (MgSO4).
1) Dosis awal sekitar 4 gr MgSO4) IV
(20% dalam 20 cc) selama 1 gr/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4
(dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gram di pantat kiri dan 4 gr di pantat
kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no 21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi
nyeri dapat diberikan xylocain 2% yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan
IM.
2) Dosis ulang : diberikan 4 gr IM 40%
setelah 6 jam pemberian dosis awal lalu dosis ulang diberikan 4 gram IM setiap
6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.
3) Syarat-syarat pemberian MgSO4
·
Tersedia
antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10% 1 gr (10% dalam 10 cc) diberikan IV
dalam 3 menit.
·
Refleks
patella positif kuat.
·
Frekuensi
pernapasan lebih 16 x/menit.
·
Produksi
urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/KgBB/jam) 4. MgSO4 dihentikan
bila :
·
Ada
tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, refleks fisiologis menurun, fungsi
jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan
kematian karena kelumpuhan otot pernapasan karena ada serum 10 U magnesium pada
dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis menghilang pada kadar
8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq/liter dapat terjadi kelumpuhan otot pernapasan
dan > 15 mEq/liter terjadi kematian jantung.
·
Bila
timbul tanda-tanda keracunan MgSO4 :
-
Hentikan
pemberian MgSO4
-
Berikan
calcium gluconase 10% 1 gr (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit.
-
Berikan
oksigen.
-
Lakukan
pernapasan buatan
·
MgSO4
dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sedah terjadi perbaikan
(normotensi).
6. Deuretikum tidak diberikan kecuali
bila ada tanda-tanda edema paru, payah jantung kongestif atau edema anasarka.
Diberikan furosemid injeksi 40 mg IM.
7. Anti hipertensi diberikan bila :
a) Desakan darah sistolik > 180
mmHg, diastolik > 110 mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan
adalah tekanan diastolik <105 mmHg (bukan < 90 mmHg) karena akan
menurunkan perfusi plasenta.
b) Dosis antihipertensi sama dengan
dosis antihipertensi pada umumnya.
c) Bila diperlukan penurunan tekanan
darah secepatnya dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan
kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang dapat dipakai 5 ampul dalam 500 cc
cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah.
d) Bila tidak tersedia antihipertensi
parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang
selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian sublingual maka
obat yang sama mulai diberikan secara oral (syakib bakri,1997)
2) Perawatan konservatif yaitu
kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medisinal.
a. Indikasi : bila kehamilan paterm
kurang 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda inpending eklampsia dengan keadaan
janin baik.
b. Pengobatan medisinal : sama dengan
perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. Hanya loading dose MgSO4 tidak
diberikan IV, cukup intramuskular saja dimana gram pada pantat kiri dan 4 gram
pada pantat kanan.
c. Pengobatan obstetri :
1. Selama perawatan konservatif :
observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak
dilakukan terminasi.
2. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah
mempunyai tanda-tanda preeklampsia ringan, selambat-lambatnya dalam 24 jam.
3. Bila setelah 24 jam tidak ada
perbaikan maka dianggap pengobatan medisinal gagal dan harus diterminasi.
4. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan
tindakan maka diberi lebih dulu MgSO4 20% 2 gr IV.
d. Penderita dipulangkan bila :
1. Penderita kembali ke gejala-gejala /
tanda-tanda preeklampsia ringan dan telah dirawat selama 3 hari.
2. Bila selama 3 hari tetap berada
dalam keadaan preeklamsia ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat
sebagai preeklampsia ringan (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu).
Kesimpulan
Preeklamsia berat adalah suatu keadaan dimana tekanan darah >160 mmHg, nyeri
perut bagian atas, nyeri kepala bagian frontal, pandangan kabur, terdapat
protein urine +2.
DAFTAR
PUSTAKA
http://penel-bid.blogspot.com/2009/06/pre eklamsia
berat.html. (tanggal akses : 11 maret 2012)
http://ayurai.wordpress.com/2009/05/21/gejala preeklamsia berat/
(tanggal akses : 11 maret 2012)
Ochtar, Rustam. 1998.Sinopsis Obstetri. ObstetriFisiologi Dan ObstetriPatologi. Jilid 1. Jakarta: EGC. Hlm:
198-208.
Prawirohardjo,Sarwono.2010.Ilmu
Kebidanan.Jakarta:PT Bina Pustaka Sarwon Prawirohardjo
Rukiyah,Ai Yeyeh.2010.Asuhan
Kebidanan IV (Patologi Kebidanan).Jakarta:Trans Info Media.
Arsip
Blog
- ▼ 2013 (20)
- ▼ Mei (18)
- MAKALAH MENSTRUASI
- ASKEB ASMA DALAM KEHAMILAN
- PSIKOLOGI REMAJA
- ANATOMI PANGGUL
- DAFTAR NOMENKLATUR
- askeb kejang pada bayi
- askeb tetanus neonatorum
- askeb hemangioma
- askeb bercak mongol
- askeb oral trush
- askeb gumoh pada bayi
- ADMINISTRASI KEBIJAKAN KESEHATAN
- NEONATUS DENGAN KELAINAN BAWAAN DAN PENATALAKSANAA...
- Askeb perdarahan tali pusat.
- ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMSIA...
- STRATEGI PROMKES DALAM PENINGKATAN KESMAS
- CONTOH KASUS ASKEB ANEMIA SEDANG
- Tomboflebitis
- ► Maret (2)
Mengenai
Saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar